Jawa Pos, 30 Januari 2017 - Laboratorium Selalu Bikin Semangat (SD Margie) - News Sekolah Margie

Jawa Pos, 30 Januari 2017 - Laboratorium Selalu Bikin Semangat (SD Margie)

GURU IDOLA

Belajar Asyik dengan Praktik Bersama Ma’am Ely Setyani

Laboratorium Selalu Bikin Semangat

DIPANDU: Dua siswa praktikum di laboratorium. Selain mengajar, Ely memotret aktivitas siswa. (Antin Irsanti/Jawa Pos/JawaPos.com)

Belajar sambil praktik selalu menarik perhatian siswa. Itu pula yang terjadi pada anak didik Ma’am Ely Setyani.Mendengar kata laboratorium, mereka semringah.

’’KALAU diajak ke laboratorium, pasti langsung bilang asyik,’’ ujar Ely Setyani tentang respons siswa-siswanya saat diajak praktik. Setelah mengemasi barang-barang yang diperlukan, seisi kelas langsung menuju laboratorium di belakang sekolah. Saking tidak sabarnya, mereka berhamburan. Berlari saling mendahului.

Ely yang tertinggal di belakang berusaha menasihati. ’’Ayo... hati-hati, jangan lari,’’ ucapnya. Namun, namanya anak-anak, tidak mudah diberi tahu. Apalagi sedang bersemangat. Ely pun berusaha mempercepat langkah sembari mengawasi.

KREATIF: Ely Setyani mengajar IPA de- ngan praktikum. Siswa bisa bermain sambil belajar sehingga ma- teri lebih mudah terserap. (Antin Irsanti/Jawa Pos/JawaPos.com)

 

Murid-murid semakin tidak sabar setiba di depan pintu laboratorium. Mereka penasaran materi praktik yang akan dipelajari. Permainan atraktif dan menyenangkan sudah terbayang di benak mereka.

’’Hari ini kita akan belajar tentang lava in cup,” terang Ely. Murid-murid semakin penasaran. Guru kelahiran Kediri, 9 Januari 1971, itu lantas menjelaskan apa lava in cup tersebut. Lava in cup adalah replika magma di dalam perut bumi sebelum meluap saat gunung meletus.

Alat dan bahan praktikumnya cukup sederhana. Mereka menyiapkan air, pewarna makanan berwarna merah, minyak kelapa, dan garam. Wadah yang diperlukan hanya gelas takar dan sendok. Anak-anak diminta untuk meneteskan pewarna ke air. Kemudian, diaduk dan ditambahkan minyak. Setelah itu, garam satu sendok makan dituangkan dalam cairan tersebut.

Apa yang terjadi? Ada gelembung-gelembung dari dasar gelas yang naik ke permukaan. Sebenarnya itu minyak yang terbawa garam ke dasar gelas. Karena massanya lebih kecil dari air, minyak akan kembali ke permukaan.

’’Inilah proses lava di dalam perut bumi. Kerak naik ke permukaan, lalu terdorong suhu panas dan meluap saat gunung meletus,’’ terang guru kelas V SD Margie itu. Murid-murid pun terkesima. Selama ini mereka hanya tahu bentuk lava setelah menyembur keluar dari dalam gunung.

I Nyoman Raditya Nareswara Adinata lalu mengacungkan tangan. Dia masih ingin tahu lebih banyak. ’’Bu, mengapa harus garam? Apa tidak bisa pakai bahan yang lain?’’ tanyanya. ’’Lha, bisa nggak? Ayo, dicoba,’’ jawab Ely.

Siswa kelas V-A itu pun mengambil gula. Dituangkan satu sendok penuh gula ke dalam campuran air dan minyak. Hal serupa terjadi. ’’Nah, bisa kan. Bahan yang massanya lebih berat dari minyak bisa memecah permukaan dan membawanya ke dasar air,’’ terangnya.

Lalu, mengapa Ely awalnya menggunakan garam? Tidak lain itu untuk memancing rasa ingin tahu murid-murid terhadap bahan yang lain. Terbukti, cara itu efektif. Siswa pun bisa belajar lebih banyak.

Kegiatan di dalam laboratorium memang selalu menyenangkan siswa. Sebab, mereka tidak melulu mendengarkan penjelasan guru di depan kelas. Selain berinteraksi langsung dengan benda-benda praktik, mereka belajar sambil bermain. Pelajaran pun menjadi lebih mudah terserap.

Guru yang sudah 17 tahun mengajar di sekolah Margie itu memang lebih suka memberikan materi lewat praktik. Karena itu, dia selalu menjadwalkan minimal satu pekan sekali melakukan kegiatan di laboratorium. Selesai melakukan kegiatan, mereka membuat laporan.

Meski demikian, ada beberapa pekerjaan yang tidak bisa diselesaikan dalam satu waktu. Misalnya, saat praktik hidroponik. Setelah mempraktikkan cara penanaman menggunakan media air itu, anak-anak diminta mengamati. Biasanya satu sampai dua pekan. ’’Nanti laporannya juga harian. Mereka sudah diberi lembar kerja untuk mengerjakan,’’ terangnya.

Praktik hidroponik juga disukai siswa. Apalagi kalau bisa sampai panen. Setiap pagi sebelum jam pelajaran pertama mereka menyempatkan diri ke halaman belakang untuk merawat tanaman. Daun yang kering dibuang. Air yang sudah keruh juga diganti. Kemudian, mereka mengisi lembar kerja untuk memantau perkembangan tanaman.

Di akhir pembelajaran, anak-anak diminta agar membuat laporan. Biasanya, berbentuk makalah dengan disertai foto kegiatan. Mereka juga bebas berkreasi memainkan warna dan hiasan agar laporan semakin menarik. ’’Foto-foto kegiatan juga kami tempel di mading sekolah untuk memperlihatkan kinerja siswa,’’ terangnya. (ant/c4/fal/sep/JPG)

 

artikel ini diambil dari Jawa Pos online , klik link dibawah utk melihat artikel aslinya 

Link asli


Update terakhir: 29 Maret 2017

news